About

News Update :
Topics :

Play Station

Blogger templates

Total Tayangan Laman

Hot News »
Bagikan kepada teman!

Penyesalan . . .

Penulis : Fahfu Udin on Jumat, 22 Maret 2013 | 02.15

Jumat, 22 Maret 2013



oleh Ak Harist Part II pada 20 Juni 2012 pukul 1:36 ·
        Seperti Biasa Setiap tahun ajaran baru.  bagi para siswa dan siswi baru, Biasanya melakukan kegiatan rutin setiap tahunnya yaitu MOS atau Orientasi Pendidikan.
 Semua hari yang kujalani biasa saja sambil terus mencari teman dan pangalaman baru.

* * *

        di Hari Kedua Masuk Sekolah...
Pelajaran pun mulai berlangsung seperti biasanya dan para siswa memulai kegiatan belajar.
        Tiba-tiba saja konsentrasi ku dan siswa lainnya terhenti sejenak ketika terdengar suara ketukan pintu berbunyi ,
Ternyata wakil kepala sekolah kami, beserta seorang cewek yang belum pernah aku dan teman-temanku kenal sebelumnya.
        Pada saat itu wakil kepala sekolah kami berbicara di hadapan kami semua
“anak – anak, di kelas kalian ini ada siswi baru. Seharusnya ia masuk sekolah sama di hari pertama kalian masuk.  tapi berhubung karena ada keperluan Keluarga di singapura, maka ia menunda jadwal pertama masuk sekolah…”

Setelah pak guru menjelaskan perihal cewek baru itu, kemudian pak guru menyuruh anak itu untuk memperkenalkan dirinya. Memang terlihat dari wajah gadis itu ada sedikit keraguan, tapi akhirnya dia bersuara juga. Dia kemudian langsung memperkenalkan diri kepada kami semua,

“ Nama saya Evii, saya berasal dari SMP Bhakti Persada. Senang berkenalan dengan kalian semua…”
setelah dia memperkenalkan diri, kemudian wakil kepala sekolah kami menyuruh dia untuk duduk di bangku yang masih kosong.
kebetulan saat itu bangku yang kosong ada di depan meja aku ….
Saat itu juga cewek cantik itu langsung duduk di depan mejaku.

senang banget rasanya cewek secantik dia itu langsung dihadapan ku. Tapi aku gak boleh lama-lama mengagumi dia, karna aku harus ngelanjutin pelajaran yang sempat tertunda tadi.


 * * *
Sekarang waktunya istirahat dan sekarang juga saatnya aku untuk berkenalan dengan dia, supaya lebih dekat ….
Aku mulai bertanya padanya, “ hayyy….nama kamu Evii ya???? Kalau boleh tau rumah kamu di mana sih???”, saat itu dia diam saja.
Tapi beberapa lama kemudian dia kemudian menjawab, “ Rumah ku deket kok dari sini,kebetulan aku juga baru pindah….jadi aku lupa nama jalannya itu apa, tapi seingat aku,, di dekat masjid yang warna hijau itu deh kayaknya…”

Dalam hati ku berpikir….masjid yang warna hijau itu kan adanya di sebelah gang rumahku, berarti rumah dia deket donk dengan rumah ku...
kemudian aku balik jawab, “ jalan itu namanya gang Lestari, berarti deket donk dengan rumah ku???. Kalau begitu kita pulang bareng  yuk???
Dia kemudian langsung meng-iyakan ajakan ku,,

 * * *
Bel  tanda pulang sudah berbunyi, aku sudah tidak sabar untuk bisa pulang bareng dia. Kami keluar dari kelas bersama-sama. Setelah ku perhatiin dia orangnya pendiam juga. Sampailah kami di gerbang sekolah, aku memintanya untuk menunggu di gerbang itu dan kemudian aku mengambil motor yg ku parkir tidak jauh dari kantin sekolah.


 * * *
         Hampir satu tahun berlalu semenjak hari itu. Hubungan pertemanan kami juga semakin akrab.
Tapi yang anehnya dia hanya mau berteman dan dekat denganku. Padahal dia tau, banyak juga cowok di sekolah ini yang mengaguminya…tapi sepertinya dia tidak peduli, malah dia menjauhi mereka semua dan Cuma mau berteman denganku. Tapi tidak apa-apa…yang penting dia tetap dekat denganku.

Tapi lama-kelamaan timbul rasa aneh yang paling aku takuti..
aku gak mau sampai rasa itu timbul padaku. Tapi kusadari, aku tak bisa menolaknya. Ternyata aku menyukai Evii !!
 Oh tuhan….kenapa rasa itu sampai terjadi dan menimpaku?. Tapi untungnya aku bisa menutupinya dari Evii karena aku tidak mau berharap lebih darinya.

Dia begitu sempurna bagiku…bagaimana tidak sempurna?? Dia cantik, baik, dan kaya.
Dia baik aja denganku aku sudah bahagia….tapi menurutku dia begitu perhatian dengan ku. Dia selalu membantuku jika aku dalam kesulitan, atau selalu menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. dia perhatian banget. Dalam hatiku slalu bertanya  :
“ jangan-jangan dia juga menyukaiku..?? tapi itu kayaknya mustahil banget”.

 * * *

Hari ini praktek olahraga. Semua orang di kelasku termasuk aku sudah berada di lapangan. Tapi aku lupa membawa air mineral untuk persediaan nanti, Terpaksa aku balik lagi ke kelas.
Sesampainya di kelas, aku melihat Evii duduk di bangkunya sendirian.
 Aku bertanya dalam hati, Evi kok nggak ikut olahraga?.
Akh daripada penasaran, mendingan ku tanyain langsung aja,

“ Vii, kamu kok gak ikut olahraga? Kamu lagi sakit ya?”.

 Saat itu juga dia langsung menjawab, “ gak koq, aku Cuma gak enak badan aja”

Duh….kasiannya lihat Evii, dengan rasa penasaran aku langsung menempelkan telapak tangan ku di dahinya, dan sontak saja aku terkejut.  Badannya panas banget!!!. Aku bilang padanya supaya di bawa ke ruang UKS saja tapi dia menolak.
Walaupun begitu, tetap saja aku akan memberitahukan ini ke petugas UKS sekolah kami. Ketika aku akan pergi, dia menarik tanganku dan mendekatkanku ke wajahnya.

“ Sudah…gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok kamu tenang aja..”


 waw….wajahnya deket banget dengan wajahku,,langsung saja aku deg-degan..
tapi segera ku lepaskan tangannya. Tapi sepertinya di menolak karna dia tetap menggenggam tanganku.

“ Rist…ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu…tapi aku takut kamu bakalan menolaknya” terdengar suaranya ragu-ragu…

tapi segera ku menjawab, “memangnya apa yang ingin kamu katakan, Vii”.
Dia terdiam sejenak, tapi akhirnya dia melanjutkan ucapannya,

“ sebenarnya dari dulu aku menyukai kamu, sebelum aku memasuki sekolah ini. Aku sudah melihat kamu lebih dulu. Saat aku dan papaku berjalan-jalan di sekitar daerah ini untuk mencari lokasi rumah baru, aku melihat kamu sedang bercanda bersama temanmu di sebuah warung.
Ntah knapa rasanya aku langsung tertarik padamu. Aku tanyakan kepada orang  di sekitar  tentang kamu, ternyata kamu sebaya denganku dan baru saja tamat SMP juga.
 Begitu aku tau kamu sudah mendaftar diri di sekolah ini, aku langsung meminta ijin pada papaku untuk segera mendaftarkanku di sekolah ini juga.
Sebenarnya papaku tidak mengijinkannya karena aku baru saja akan didaftarkan di sekolah yang bertaraf internasional

Tapi akhirnya papaku menuruti keinginanku, dan kamu tau kanapa aku memaksa untuk tetap bersekolah disini ??
 Karena aku ingin mengenalmu lebih dekat Ris,..
aku ingin kamu dan aku pada akhirnya bisa selalu bersama.

Dan akhirnya keinginanku terkabul.
Tapi aku tidak tau pasti kamu mau menerimaku atau tidak Ris.
Yang pasti ku sudah berkata jujur padamu karena sudah dari dulu perasaan ini aku pendam.

“Riski….aku mau kamu berkata jujur padaku, kamu mau enggak,menerima aku jadi pacarmu ??”,
 pertanyaan Evii saat itu membuat aku terkejut, mengapa tidak dari dulu aku mengaguminya dan ternyata dia diam-diam juga menyukaiku!!!!

Astaga,, Ternyata pengorbanannya cukup besar juga untukku..
Beberapa saat kemudian dengan sedikit malu-malu,karena baru pertama kalinya aku di tembak sama cewek, aku langsung menjawab,
“aku tidak menyangka akan jadinya begini, tapi tahukah kamu Vii, dari dulu juga aku sudah menyukaimu…
dan aku juga Ingin menjadi pacarmu…”…

Pernyataan itu membuat Evii terkejut.
Dia langsung bertanya “ kamu yakin dengan jawabanmu itu?”.

 “ ya, aku sangat yakin” ku langsung menjawab pertanyaannya.

Saat itu juga dia menangis terharu, dan langsung memelukku dan Sepertinya dia sudah melupakan rasa sakitnya.
Namun, saat itu juga ku melepaskan pelukannya karena aku harus melanjutkan olahragaku yang sempat tertunda tadi. Tapi, sebelum aku pergi aku memaksanya untuk tetap pergi keruang UKS.
 Mungkin karena saking senangnya, dia langsung menuruti perintahku.

“ hati-hati ya sayang olahraganya”….dia mengatakannya padaku.

Dengan tersenyum ku juga menjawab, “ ya sayank, cepat sembuh juga ya, jangan lupa minum obat”,


* * *
Sudah sebulan kami jadian dan belum ada satupun dari temen-teman kami yang mengetahuinya. Tapi itu memang ku sengaja karena ku tahu Evii adalah cewek yg amat populer di sekolahku.
 Sebenarnya Evii ingin semua orang mengetahui tentang hubungan ini, tapi aku menolaknya, ntar aku malah di benci teman-temanku karena ku sudah mengambil hatinya cewek idaman mereka,


* * *
Tapi, sepertinya ada yang disembunyikan Evii dariku. aku tidak tau itu apa.
Aku tidak mau berprasangka buruk dulu padanya, karena ku tau, Evii adalah cewek yang setia. Dia amat menyayangiku. Jadi, tidak mungkin dia mengkhianati hubungan kami.
Suatu saat, aku memergoki Evii sedang membaca selembar Surat, tapi begitu mengetahui kedatanganku, di langsung menyembunyikannya. Aku berusaha memaksanya untuk melihat, tapi dia menolak. Saat itulah kecurigaan ku berawal…

* * *
Sebulan kemudian, Evii pergi selama dua minggu dan dia tidak memberitahukan kemana kepergiannya itu kepadaku. Sebagai pacar,  aku seperti mulai merasa tidak di hargai.
Masa’ dia pergi selama itu tidak memberitahuku?
 Saat itulah ku mulai jenuh dengannya.

Dan disaat kepulangannya, dia langsung mendatangi rumahku,

dia langsung bertanya, “kamu koq gak menghubungi aku beberapa hari ini?”,

disaat itu juga ku langsung menjawab, “ Apah..? gak salah?? Kayaknya kamu yang kayak gitu dech. Kemana aja kamu dua minggu terakhir ?  kenapa kamu gak kasih kabar ke aku? aku ini kan pacar kamu!!!”

Dia terdiam sejenak dan sepertinya tidak menjawab pertanyaanku. Melihat responnya seperti itu, aku langsung mengatakan padanya,

“kamu gak berani menjawab kan??”

“bukan gitu yank..  aku per-gi ke-….” Dengan terbata-bata dia menjawabnya


dan ku langsung memotong pembicaraannya, “sudah jelas kan semua??
Menjawab itu saja kamu ketakutan, berarti dugaanku selama ini benar, kamu Selingkuh !!!
yaudahlah gini aja, mulai hari ini kita putus !!!”



Begitu mendengar keputusanku, dia langsung menjawab,
“kok secepat itu keputusan kamu?? ini semua bisa aku jelaskan…”,
“alaahhhh,, gak ada yang perlu kamu jelaskan lagi, semuanya kan sudah jelas, mulai sekarang, anggap saja kita gak ada hubungan apa-apa…”.
 Di saat mendengar ucapanku, ku lihat dia menangis!!!

Dia langsung berkata,
“kalau memang ini keputusanmu, ku terima. Tapi kamu harus tahu, tidak ada cowok lain selain kamu. Aku bukan cewek seperti yang kamu bayangkan. Di dalam hati ini aku tulus mencintai kamu, Ris. Terimakasih karena kamu sempat menjadi orang yang istimewa di hidupku., aku tidak akan pernah melupakanmu…..”


 itulah kata-kata terakhir yang ku dengar dari mulut Evii. Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia langsung pergi meninggalkanku….
tapi dalam hati yang paling dalam sebenarnya aku tidak ingin perpisahan ini sampai terjadi…


* * *
Hari-hari di sekolah terasa tidak istimewa lagi setelah kejadian itu.
 Memang, setelah Evii datang ke rumahku dan menemuiku waktu itu, dia tidak pernah datang ke sekolah lagi.  Namun aku sudah tidak memperdulikannya lagi.



* * *
         Setelah seminggu kemudian, di kelasku sedang konsentrasinya melihat guru menjelaskan pelajaran di depan kelas. Namun terhenti sejenak saat kepala sekolahku datang, sepertinya ada sesuatu yang ingin di beritahukannya.
Kepala sekolah kami dengan raut wajah serius dan seperti tidak percaya, akhirnya memberitahukan sesuatu yang pada akhirnya sulit untuk ku percaya…

”anak-anak, di sekolah kita tercinta ini, kita semua baru saja kehilangan murid sekaligus teman kalian. Dia di panggil yang maha Kuasa tadi malam… EVI SEPTIANI.
Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit Singapore sesa’at setelah menjalani operasi atas penyakit yang di deritanya, yaitu kanker otak.
Marilah kita semua berdoa, Semoga arwahnya diterima di sisi tuhan yang maha kuasa…”


Setelah mendengar ucapan dari Bapak kepala sekolah, sepertinya dunia ini berhenti berputar.
aku gak percaya dengan kenyataan ini …
ternyata dia menyembunyikan ini dari ku tentang penyakitnya !!

Sepulang sekolah, ku berlari menuju rumahnya…
terlihat ada banyak orang di sana dan juga sebuah karangan bunga menandakan bahwa ada yang berduka cita di sana.

Tanpa menunggu lama lagi, ku langsung memasuki rumahnya dan….
astaga….. ku melihat Evii terbaring di sana !!!.
Batin ini menjerit….dan masih tidak terima atas kenyataan ini.

Ku langsung menghampiri jasadnya…terlihat wajahnya kaku namun tersenyum seperti memberi isyarat bahwa dia bahagia di sana….
tapi ku masih belum menerima kenyataan ini !!!

Oh tuhan…kenapa ini semua begitu cepat terjadi?? Ku masih mencintai dia
tapi dia begitu cepat meninggalkanku.

Disaat ku larut dalam tangisan, terasa pundakku di tepuk. Setelah menoleh ke belakang, aku melihat seorang cowok yang sepertinya masih SMP memberi isyarat bahwa dia ingin berbicara padaku.

Aku pun mengikutinya ke sebuah kamar yang ternyata itu adalah kamar Evi. Di sana aku melihat fotoku tetap menghiasi dinding Kamarnya….
ternyata tidak ku sangka, walaupun aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, dia tetap mencintaiku..

oh tuhan…betapa jahatnya diriku memutuskannya di saat dia membutuhkanku….

Ku lihat cowok yang ternyata adiknya Evii itu memberikan sebuah surat padaku. Dia mengatakan sebelum kakaknya itu menghembuskan nafasnya yang terakhir…
dia menyuruh adiknya untuk memberikan surat itu padaku.

 Dan setelah ku buka, ku langsung menangis sesedih dan sakitnya aku ketika ku baca isinya.


Dia menuliskan:

Dear Risky….

      Ketika kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Maaf jika aku menyembunyikan semua ini darimu…
      aku tidak mau kamu terus memikirkan ku.
 Ketika kamu melihat aku menyembunyikan sebuah kertas,karena sebenarnya itu adalah Surat mengenai penyakit ku…

      aku tidak mau kau sampai mengetahui semuanya…
dan ketika aku tidak memberitahukan kepergianku waktu itu,
 karena aku tidak ingin kamu mengkhawatirkanku karena di saat itu aku ingin menjalankan operasiku yang ketiga..
aku memang mengidap penyakit kanker otak…
aku tidak ingin kamu mengetahui penyakitku yang sebenarnya karena ku takut kamu tidak mau menerimaku dan malah meninggalkanku.

       Ketahuilah Riss,….kamu begitu berarti bagiku. Aku tidak mau sampai mengecewakanmu…dan aku tidak mau sampai kehilangan kamu..
tapi perpisahan itu telah terjadi,,,sebenarnya hatiku hancur saat itu semua terjadi..
tapi aku harus bisa menerimanya jika itu dapat membuatmu bahagia.

      Walaupun aku sudah tidak di dunia ini lagi, tapi aku akan tetap mencintaimu dan tetap memperhatikanmu di sana.
      Mohon jangan tangisi kepergianku karena itu akan membuat hatiku sakit dan tidak tega meninggalkanmu…..
Aku akan tetap selalu  ada di hatimu dan selalu menjagamu……
Kau yang terindah…

dari Yang mencintaimu,
Evi Septiani...

* * *



Tangisanku tak bisa di bendung lagi ketika membaca surat itu.
Ternyata aku telah salah menilainya….
kesetiaannya yang begitu kuat tapi aku malah meragukannya…
cintanya begitu besar untukku tapi aku membalas dengan malah menyakitinya.

Maafkan aku Vii….
aku sangat menyesal karena telah berburuk sangka padamu.
Tapi ku lakuin itu karena aku sangat sayang padamu, ku gak mau kamu meninggalkanku dan pergi dengan yang lain…tapi semuanya telah terlambat…
aku tak bisa berbuat apa-apa lagi…
yang bisa kulakukan hanya menangis dan terus menangis…

* * *

Aku ikut mengantarkan Evi di tempat peristirahatannya yang terakhir.
Walaupun air mata ini terus mengalir, tapi aku harus ikhlas melepaskannya. Mungkin hanya surga tempat yang pantas buat orang sebaik dia…

Selamat jalan Evi…
aku akan tetap mengenangmu meskipun kita telah berpisah,,,
namun hati ini masih untukmu…
di setiap do’aku akan kuselipkan namamu…
agar tuhan tahu bahwa kau orang yang paling berarti dalam hidupku...

… Miss you…






komentar | | Read More...

Penulis : Fahfu Udin on Kamis, 28 Februari 2013 | 08.51

Kamis, 28 Februari 2013


KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS
JENANG KUDUS
NAMA   :       FAHFUDIN
KELAS   :       12.S1TI.09
NIM        :       12.11.6357

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
Jl. Ring Road Utara Condong Catur, Depok, Sleman, Yogyakarta

ABSTRAK


Jenang Kudus adalah makanan sejenis dodol Garut yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah. Jenang Kudus oleh- oleh khas dari Kudus. Jenang ini biasanya dijual dalam potongan-potongan kecil, dibungkus aluminium foil, dan dimasukkan ke dalam kemasan dus. Di Kudus, ada ratusan industri rumahan pembuat Jenang Kudus. Rasa dari Jenang Kudus adalah manis. Proses produksi dan adonan bahan tradisional mudah dikerjakan walau secara manual dan mempekerjakan Sumber Daya Manusia yang relatif banyak.

Jenang adalah salah satu makanan tradisional yang kini mulai banyak dikenal adalah jenang. Jenang merupakan makanan tradisional dari Kota Kudus, Jawa Tengah. Jenang atau yang juga sering di sebut dodol, kini muncul dengan kemasan yang lebih elegan dan berkelas. Tidak tanggung-tanggung, jenang ini juga dikonsep agar bisa menyasar ke berbagai penjuru dunia. Ekspansi pemasarannya tidak hanya di Indonesia tapi  sudah merambah hingga luar negeri.
Muhammad Hilmy merupakan salah satu pengusaha yang banyak berperan dalam mengenalkan produk jenang ke seluruh lapisan masyarakat Tanah Air dan luar negeri. Salah satu brand produk jenang Hilmu yang sudah cukup terkenal adalah Jenag Kudus Mubarok. Hilmy mengatakan jenang Mubarok sudah ada sejak lama namun dahulu jenang masih hanya sebagai cemilan biasa dan belum diperdagangkan.
“Jenang ini sudah ada dari dahulu, namun waktu itu jenang hanya sebagai penganan yang belum diperdagangkan. Menurut berbagai sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, awal keberadaan jenang diproduksi secara masal dan diperjualbelikan itu dimulai oleh Generasai Pertama dari Jenang Kudus Mubarok,” ungkap Hilmy yang juga Direktur Utama Mubarokfood Cipta Delicia.




ISI
Jenang Kudus
Nih, resepnya Jenang Kudus
Bahan- bahan jenang ketan:
1.                 Tepung beras ketan murni sebanyak 10 kg
2.                 Gula merah super sebanyak 15 kg
3.                 Kelapa sebanyak 30 biji
4.                 Minyak goreng 1 kg
Cara membuatnya:
1.                 Giling beras hingga halus
2.                 Buat santan dari ampas kelapa, perasan santan kelapa yang pertama dimasak sampai jadi minyak, dan perasan santan yang selanjutnya buat campuran tepung ketan, aduk santan dan tepung sampai merata.
3.                 Setelah santan yang dimasak sudah jadi minyak, masukan gula merah untuk pertama kalinya masukan sekitar 5-6 kg.
4.                 Setelah gula meleleh masukan adukan tepung tersebut, dan aduk sampai adonan menggumpal. Kemudian masukan gula sisanya.
5.                 Aduk terus sampai semuanya tercampur, pastikan kondisi api tetap stabil agar percampuran adonan bisa sempurna. Aduk sampai matang usahakan jangan sering berhenti agar adonan tidak menjadi gosong.
6.                 Semua proses pemasakan dari awal adonan dimasak dengan bahan dengan jumlah tersebut diatas berkisar sekitar 3 / 4 jam, dan untuk mengetahui bahwa jenang sudah masak adalah pada saat jenang sudah dipegang nggak lengket, maka jenang tersebut sudah siap diangkat. Dan cetak sesuai selera.




REFERENSI


komentar | | Read More...

Ketika Allah Membungkam Mulutku . . .

Penulis : Fahfu Udin on Rabu, 05 Desember 2012 | 23.36

Rabu, 05 Desember 2012


oleh Ak Harist Part II pada 6 Desember 2011 pukul 9:46 ·

Adzan Shalat Isya’ berkumandang tapi sepertinya telingaku menolak dengan sukses panggilan shalat itu.
Sambil tiduran aku memencet-mencet remote televisi untuk memilih tayangan yang pas dan menarik tapi tak ada tayangan televisi yang pas sesuai keinginanku.
Akhirnya aku beranjak ke kamar yang berada di lantai tiga. Rasanya malas sekali pergi ke sana. Dengan langkah berat bercampur malas, aku berjalan pelan menaiki tangga.

“Mas Ram, nggak shalat?” suara lembut itu tiba-tiba menghentikan langkahku.
“Memangnya kamu sudah Af?” tanyaku sambil menggaruk-nggaruk kepala.

“Aku nggak shalat” jawabnya pelan.
“Aku juga nggak shalat” aku melanjutkan perjalanan menuju kamar meski Afiya memandangku sedikit sinis dan aneh tapi aku tahu bahwa ia tidak suka dengan kelakuanku hari ini.
Afiya adalah adik perempuanku. Usianya satu tahun lebih muda dariku. Mungkin ia sedikit marah denganku karena aku tidak begitu peduli dengannya tadi. Apalagi ketika aku menjawab juga tidak shalat. Entah apa perasaan Afiya saat itu dan aku baru teringat jika adikku ini perempuan yang sudah kelas 2 SMA. Jadi wajar kalau ia tidak shalat. Mungkin ia berhalangan hari ini.

Sebagai seorang kakak, aku merasa malu dengan adikku ini. Kuakui jika Afiya adalah perempuan yang baik dan selalu mengingatkanku untuk shalat Isya’. Ia juga tak bosan mengingatkanku. Seharusnya aku berterima kasih padanya tapi namanya juga manusia. Pasti ada rasa gengsi dalam hati. Tapi sebenarnya aku sangat menyangi adikku itu.

Meski Afiya setiap hari mengingatkanku untuk shalat Isya’ dengan sabar, aku tetap saja tak memperdulikannya. Bagiku shalat Isya’ itu sangat sulit dilaksanakan bahkan lebih sulit dari pada shalat subuh. Aku tahu jika shalat lima waktu itu penting tapi aku malas sekali melaksanakannya bahkan mengambil air wudhu saja, kaki ini rasanya sangat berat untuk melangkah. Seperti ada beton satu ton yang menempel di punggungku.

                                                                                                              ****

Pagi ini cerah sekali apalagi suasananya sangat langka menurutku karena biasanya awan mendung selalu menghiasi langit dan menutupi sinar mentari. Memang pagi ini sangat cerah tapi wajah Afiya kulihat tidak secerah pagi hari ini. Biasanya ia selalu bersemangat. Suasana di ruang makan jadi lebih aneh karena Afiya tidak seperti biasanya. Ayah dan Ibu juga heran melihatnya. Sesekali Afiya melirikku ketika aku makan tapi ketika aku melihatnya, ia malah memalingkan pandangannya. Aku merasa ada sesuatu yang mau dikatakan Afiya.
“Ada apa Af?” tanyaku sambil mengambil piring dan sendok..
“Nggak ada apa-apa kok” wajah muramnya masih menghiasi dirinya.
“Kalau sakit, nggak usah dipaksain sekolah” ucapku sambil menatap Afiya.
“Tumben peduli sama aku” mendengar ucapan Afiya, aku terdiam dan aku tahu sebenarnya Afiya masih marah denganku karena kejadian semalam. Aku ingin meminta maaf tapi nanti sajalah toh hari ini aku harus berangkat pagi-pagi untuk sekolah karena jadwalnya piket lagi pula Afiya pasti memaafkan aku nanti.

                                                                                                                ****

Aku sengaja meninggalkan jam pelajaran dan menenangkan pikiranku di masjid sekolah sambil menunggu shalat Dhuhur meski kurang satu jam lagi.
Entah kenapa hari ini aku kurang antusias menerima pelajaran yang diberikan guru-guru. Mungkin karena Afiya masih marah atas kejadian semalam dan aku merasa sangat bersalah pada Afiya. Ingin sekali ku meminta maaf padanya tapi kok rasanya malu sekali untuk mengungkapkannya.
Apakah pakaian sombong ini melekat erat denganku?. Hari ini aku merasa tak tenang jika aku belum meminta maaf pada Afiya.
Rasa bersalah terus menghantuiku hingga tak terasa satu jam aku memikirkannya. Terlihat pak Sutopo guru PKN dan empat guru yang lainnya menuju masjid untuk menunaikan shalat dhuhur. Ketika mereka berlima sampai di masjid, pak Sutopo menyuruhku untuk mengumandangkan adzan. Aku ragu apakah aku bisa atau tidak karena belum pernah aku mengumandangkan adzan. Dengan langkah mantap campur keraguan, aku menuju mihrab untuk mengambil mic dan bersiap mengumandangkan adzan dhuhur.

Ketika aku memulai bertakbir saat Adzan, aku tak menyangka jika aku ini bisa melantunkannya dengan merdu ,
padahal baru pertama kali. Lalu kulanjutkan adzan dan ketika sampai di kalimat “hayyaalashalah” sepertinya ada yang menyumpal mulutku ini sehingga aku mengucapkannya kurang lengkap. “ Hayyalasssst” mendengar Adzan yang ku kumandangankan, kelima guru itu langsung menatapku aneh. Aku semakin grogi dan tegang.
Lalu aku mencoba menenagkan diri dan mengucapkannya untuk kedua kali dan hasilnya sama “ Hayyalasssst” lagi-lagi ada sesuatu yang menghentikanku untuk mengucapkannya. Tidak hanya itu, kelima guru itu melihatku. Tapi biarlah, aku tetap melanjutkan Adzan sampai selesai. Anehnya, hanya kalimat tadi saja yang tidak lengkap kuucapkan.
Seusai shalat dhuhur, aku duduk di teras masjid untuk beristirahat. Kusandarkan diriku di tembok sambil kuselonjorkan kakiku. Lagi-lagi aku merasakan beberapa kejadian aneh.

Yang mengejutkan lagi, aku tak mampu mengucapkan “Hayyalashalah”
Aku menjadi tidak enak dengan guru-guru yang mendengar lantunan adzanku yang aneh itu. Terlintas dibenakku bahwa arti dari “Hayya’lashalah” adalah “ Marilah mendirikan sholat”. aku berpikir sejenak dengan kejadian saat mengumandangkan adzan dhuhur tadi.

“Mungkinkah Allah membungkam mulutku Karena aku belum sepenuhnya mendirikan shalat?. aku bertanya-tanya dalam hati.

Tersadar bahwa kejadian tadi adalah sebuah peringatan untukku. Akhirnya kuambil handphone yang ada di tasku. Jika mulut ini tak mampu terucap, aku berusaha meminta maaf kepada Afiya meski hanya lewat pesan singkat atau SMS.

Tapi rasanya sulit sekali untuk merangkai kata-kata maaf untuknya. Apakah aku tidak berbakat merangkai kalimat ya?
Beberapa jam aku duduk dan memegang Handphone sambil memikirkan kata-kata yang pas untuk meminta maaf kepada Afiya. Sambil menghela nafas, aku memutuskan untuk menggunakan kalimat apa adanya tapi aku tak berani.
“ Ya Allah sungguh sombong hamba-Mu ini” bisikku.

“Tiit..tiiit” Handphoneku berdering kencang. Kulihat ada pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Afiya. Suatu kebetulan sekali tapi aku sangat malu karena SMS dari Afiya itu ucapan maaf. Padahal seharusnya aku dulu yang meminta maaf.

“Kakak ku yang keren, sebenarnya Afiya malu untuk mengatakannya tapi Afiya berusaha meminta maaf meski hanya lewat SMS. Maafkan Afiya ya mas? Atas ucapan Afiya yang menyinggung Mas Rama pagi tadi.” Sebuah pesan yang membuatku malu sebagai seorang kakak.
Bahkan pesan yang Afiya sampaikan itu mirip sekali dengan pesan yang akan aku sampaikan kepadanya. Tanpa ragu aku membalas pesan Afiya.

“Maafkan juga ucapanku kemarin malam” Hanya itu yang ku kirim.
“Ya , jangan lupa nanti shalat Isya’” balas Afiya.

“Pasti” Aku membalas SMS itu tanpa ragu sedikit pun

“Allhamdulillah” setelah itu Afiya tidak SMS lagi. Betapa bahagianya hati ini ketika Afiya memaafkanku.
Aku tiba-tiba teringat saat adzan tadi.Ternyata Allah benar-benar membungkam mulutku saat mengumandangkan adzan Sungguh memalukan jika menyeru untuk mendirikan shalat tapi yang menyerukan Adzan itu belum sepenuhnya mendirikan shalat. sebuah peringatan yang cukup pedas bagiku.

Dengan semangat kulangkahkan kakiku menuju parkir untuk mengambil motor kesayanganku. Rencananya nanti malam aku akan membelikan martabak telor kesukaannya.

                                                                                                                 ****

Akhirnya sampai juga di rumah. Tapi ada yang aneh dengan rumahku kali ini. Kelihatannya banyak orang yang berdatangan ke rumahku. Aku teringat bahwa minggu ini adalah giliran arisan di rumah Ibu. Tanpa ragu aku menuju ke rumah sambil menenteng kantong plastik berisi martabak telor.
Pasti Afiya senang. Tapi kenapa ada yang aneh. Lalu aku memasuki rumah dan ternyata orang-orang yang berdatangan itu sepertinya bukan arisan. Tapi sepertinya sedang melayat orang mati.
“Memangnya siapa yang mati?” tanyaku dalam hati. Kulihat Ibu tersedu-sedu menangis dan aku menghampirinya dalam keadaan bingung.

“Ada apa ini bu?” aku tiba-tiba merinding. Entah perasaan apa ini. Lalu ibu memelukku dengan dekapan yang hangat dan erat sekali.. Air mataku tiba-tiba keluar.

“Yang sabar nak..” mendengar ucapan Ibu, air mataku semakin meleleh padahal tadi pagi Ayah sehat-sehat saja tapi mengapa ia pergi begitu cepat. Aku merasa bersalah pada Ayah yang selama ini jarang kuajak bicara dan tidak sempat meminta maaf dengannya. Tapi aku merasa aneh karena aku melihat orang yang mirip Ayah mempersilahkan masuk. Mungkin bukan ayah. Kok hatiku jadi merasa tidak enak?

“Ibu…ibu..ibu…. Ayah nggak meninggal bu” sambil menunjuk-nunjuk ayah yang sedang berdiri di dekat pintu rumah dan tangisku hilang seketika tapi ibu tetap saja menangis dan tangisannya semakin menjadi-jadi.

“A..A..Afiya” ucap Ibu sedikit gagap sambil menahan tangis.

Mendengar itu aku jantungku sepertinya berhenti sejenak sepertinya aku merasa bersalah dengan adikku satu-satunya ini.
Ku buka kain yg manutupi jasad itu, ternyata benar, itu afiya,, adikku yg sangat kucintai..
. . .Sejak saat itu, suara Afiya di malam hari tidak pernah lagi kudengar .
Tapi ketika aku mulai malas untuk shalat Isya’, sepertinya Afiya ada di dekatku dan kata-kata setiap hari itu muncul begitu saja dalam benak ku.
“Mas Ram nggak shalat?”.??

* * *







dikutip dari majalah SABILI, cerpen ALLAH MEMBUNGKAM MULUTKU . . .

komentar | | Read More...

Hadiah Terakhir Dari Ayah . . .


oleh Ak Harist Part II pada 16 Desember 2011 pukul 21:34

Di sebuah perumahan terkenal di jakarta tinggalah seorang gadis bersama sang ayah..
sang ibu telah lama mendahuluinya pergi sejak ia masih kecil. .
Seorang gadis yg akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia sangat yakin  nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.
Diapun ber'angan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.
Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan putrinya, dan betapa dia mencintai anak itu.
Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Jaket kulit Terkenal, di belakangnya terukir indah namanya dengan sutra emas.

Gadis itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan jaket ini untukku?"

Lalu dia membuang Jaket itu dan lari meninggalkan ayahnya.
Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia hanya berdiri mematung, tak tahu apa yg harus di lakukannya ..

* * *

Tahun demi tahun berlalu, sang gadis telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang wanita karir. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi suami yang tampan dan anak yang cerdas.

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.

Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka lemari pakaian ayahnya, dia menemukan Jaket itu, masih terbungkus dengan kertas kado yang sama beberapa tahun yang lalu.


sesuatu jatuh dari bagian kantong Jaket itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia merogoh kantong sebelahnya dan menemukan sesuatu,, di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, ia menangis. air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang takan mungkin bisa terobati...





komentar | | Read More...

Aku Menangis di Kuburanmu . . .


oleh Ak Harist Part II pada 4 Mei 2012 pukul 16:30 ·

Suara kicau burung mulai membangunkan Khairul di pagi dingin di hari minggu.
Setelah mencuci mukanya dengan air sejuk kemudian ia membuat secangkir kopi hangat untuk menemaninya membaca harian pagi edisi minggu.

Seperti biasa ia selalu mencari beberapa pekerjaan di kolom lowongan kerja. Khairul yang akrab dipanggil Irul ini tidak memiliki pekerjaan tetap, dia hanya seorang penulis kecil untuk harian pagi.

Ketika ia memiliki atau membuat sebuah tulisan yang bagus maka akan ia kirimkan ke redaksi harian pagi itu dan mendapatkan upah yang sesuai dengan karyanya.

Pada malam minggu terkadang Irul mengunjungi pacarnya Imel yang tinggal di Perumahan Karyawan yang tidak jauh dari rumahnya.
Imel memang termasuk keluarga yang berada, berbeda dengan Irul yang hidup dalam kesederhanaan. Namun orang tua Imel tidak melarang hubungan mereka. Meski dari keluarga yang berada, tapi Imel tidak memilih-milih untuk menjadi Teman Hidupnya.
Karena itu Khairul sangat menyayanginya dan rela melakukan apa saja agar pacarnya tersebut bahagia.

Malam hari tiba, waktunya untuk makan malam bersama antara mereka berdua. Namun saat makan malam berlangsung, hidung Imel mengeluarkan tetesan darah kental.

Saat itu Irul khawatir namun Imel hanya bilang kalau itu hanya mimisan biasa.
Mendengar itu kekhawatiran Irul menjadi sedikit berkurang.

Suatu minggu pagi mereka berjalan di taman kota namun tiba-tiba Imel jatuh pingsan,
saat itu ia langsung dibawa Irul ke rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa oleh Dokter yang bersangkutan, Imel divonis menderita kanker otak. Hal itu diberitahukan oleh Dokter ke Imel. dan dikatakan bahwa umurnya tidak akan lama lagi.

“Dok, saya harap dokter tidak memberitahukan hal ini pada pacar saya yang sedang menunggu di depan. Karena saya tidak ingin dia bersedih,” pinta Imel pada Dokter tersebut.

Setelah Dokter keluar dari ruangan, “Gimana, dok, keadaan pacar saya?” tanya Irul.

“O…anda tenang saja. Pacar anda baik-baik saja. Hanya terkena anemia atau kekurangan darah. Makanya dia sering letih dan pingsan,” jawaban Dokter pada Irul.
“Lalu, bagaimana, dok?” tanya Irul lagi penasaran.

“Hm… tolong biarkan dia istirahat untuk beberapa Saat ini dan jangan diganggu dulu …”
saran Dokter pada Irul lalu masuk ke dalam ruangan.

Dokter meminta agar Imel tabah dan sabar serta banyak berdoa agar datang suatu keajaiban nanti dan segera diminta memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang penyakit yang sedang di deritanya tersebut.
Dan juga untuk tidak berhenti berobat ke spesialis-spesialis kanker otak.
Akhirnya Irul mengantar Imel pulang kerumahnya dengan sepeda motor. Sampai di depan teras, Imel mengucapkan selamat malam pada Irul dan berpesan agar hati-hati di jalan, begitu pula dengan Irul yang berpesan agar Imel banyak beristirahat.


Pada Malam harinya setelah selesai makan malam bersama keluarga, Imel menceritakan yang terjadi terhadap dirinya kepada kedua orang-tuanya. Imel merupakan anak satu-satunya di keluarga tersebut, jadi wajar ia sangat disayang oleh kedua orang tuanya.

Mendengar apa yang disampaikan oleh anaknya tersebut kedua orang tuanya sangat sedih dan khawatir, dan segera berusaha bagaimana agar anaknya bisa cepat sembuh.

Sudah seminggu sejak pengobatan Imel yang tidak diketahui oleh Khairul. Bahkan ketika Irul menelpon untuk menanyakan keadaannya, pasti tidak pernah diangkat. Sms dari Irul tidak pernah dibalas. Sampai suatu hari Imel menelpon Khairul untuk datang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Imel, Khairul dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Orang tua Imel memperhatikan dari atas tangga. Imel juga pernah berpesan pada orang tuanya untuk tidak memberitahukan penyakit yang dideritanya kepada Khairul sampai kapanpun.

Dengan wajah mulai pucat Imel meminta Khairul untuk mendengarkan ucapannya dengan serius.

“Rul, aku minta kamu jauhi aku mulai saat ini…” pintanya dengan nada sedih.

“Kenapa,,,?” tanya khairul penasaran.

“Aku mau kuliah ke luar negeri. Orang tuaku ingin aku hidup dengan orang yang sukses. Aku harap kamu bisa berusaha keras dan kembali padaku dengan kesuksesan yang kamu raih…”

Mendengar hal itu Khairul merasa terpukul dengan keadaan dirinya.
Setelah Irul pulang maka Imel menangis di dalam kamar dan orang tuanya ikut sedih melihat yang terjadi pada anaknya.


Setibanya di rumah, Irul selalu murung dan memikirkan ucapan-ucapan yang telah didengarnya dari Imel.
Itu menjadi sebuah penyemangatnya setelah pisah dari Imel. Ia bertekad untuk berusaha dan menjadi orang yang sukses, setelah itu ia akan kembali untuk membuktikan pada orang tua Imel, kalau ia mampu untuk menjadi orang yang sukses.

Hampir setiap hari ia mencari pekerjaan, kebetulan Harian Pagi yang sering ia kirimi tulisan sedang mencari orang untuk menjadi wartawan tetap. Dimulainya karir menjadi seorang wartawan,

karena kerjanya yang gigih dan memuaskan kemudian Irul diangkat menjadi pe-mimpin redaksi yang mengelola harian pagi tersebut.
Namun ketertarikannya terhadap menulis tidak pudar, ia mulai membuat novel tentang kisah hidupnya yang ia angkat menjadi cerita yang menarik.

Novel yang ia buat laku keras dan terkenal di seluruh nusantara bahkan sampai ke Malaysia. Novel tersebut juga sempat dibaca oleh Imel, ia senang Khairul sudah mulai sukses.

Kini Irul tidak lagi bekerja di harian pagi seperti biasa, kini dia telah menjadi penulis terkenal dan kaya raya. Namun, apa yang telah ia raih kini tidak membuatnya lupa dari mana asalnya. Dia tidak sombong dan selalu membantu orang-orang yang kesusahan.

. . .

Pada hari minggu, seperti biasa Khairul pergi untuk berlibur pulang ke rumahnya di kampung, namun cuaca agak sedikit mendung, namun tak menjadi halangan karena ia membawa mobil.

Ketika mobilnya lewat di depan rumah Imel, ia hanya mendapati rumah tersebut sudah disegel dan tak berpenghuni lagi.

Kebetulan rumah lama Khairul berada di sekitar pemakaman umum, ia melihat kedua orang tua Imel berjalan kaki dengan baju yang kusam dan membawa sekeranjang bunga.

Ia tidak membalas apa yang pernah dikatakan Imel dulu padanya.
Ia bertanya mau ke mana kedua orang tua tersebut.

Karena merasa kasihan pada Khairul kedua orang tua Imel pun melupakan janji mereka untuk tidak mengatakan keadaan anaknya yang sebenarnya.

Orangtua Imel bercerita bahwa Imel terkena kanker otak, dan sebenarnya ia tidak pergi kuliah keluar negeri tetapi untuk pergi berobat.

Dia tidak ingin membuat Khairul sedih dan dia berpesan agar Khairul tetap semangat dan ia senang atas kesuksesan yang telah Khairul raih.

“Kami telah berusaha untuk kesembuhannya, seluruh harta kami jual agar anak kami bisa sembuh, tapi Tuhan berkehendak lain,” ucap orangtua Imel dengan sedih.


Setelah mendengar apa yang telah disampaikan orang tua tersebut, Irul jatuh lemas terdiam.

Sejenak ia membayangkan wajah Imel tersenyum padanya, terbayang pula segala kisah yang pernah mereka lalui bersama.

Kemudian Khairul meminta orang tua Imel untuk mengantarkannya ke kuburan Imel.

Di sana di Sebuah segunduk tanah dan batu nisan bertuliskan nama Imelda Melani.
Khairul menatap foto yang ada di kuburan tersebut, foto yang tersenyum padanya. Meninggalkan kisah kasih yang pilu, membuat air mata Khairul jatuh untuk ke sekian kalinya, menangisi kepergian kekasih yang sangat ia cintai.***

:'-)




komentar | | Read More...

Blogger news

Categories

About

Blogroll

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. TULISAN SAYA . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger