About

News Update :
Topics :

Play Station

Blogger templates

Total Tayangan Halaman

Ketika Allah Membungkam Mulutku . . .

Penulis : Fahfu Udin on Rabu, 05 Desember 2012 | 23.36

Rabu, 05 Desember 2012


oleh Ak Harist Part II pada 6 Desember 2011 pukul 9:46 ·

Adzan Shalat Isya’ berkumandang tapi sepertinya telingaku menolak dengan sukses panggilan shalat itu.
Sambil tiduran aku memencet-mencet remote televisi untuk memilih tayangan yang pas dan menarik tapi tak ada tayangan televisi yang pas sesuai keinginanku.
Akhirnya aku beranjak ke kamar yang berada di lantai tiga. Rasanya malas sekali pergi ke sana. Dengan langkah berat bercampur malas, aku berjalan pelan menaiki tangga.

“Mas Ram, nggak shalat?” suara lembut itu tiba-tiba menghentikan langkahku.
“Memangnya kamu sudah Af?” tanyaku sambil menggaruk-nggaruk kepala.

“Aku nggak shalat” jawabnya pelan.
“Aku juga nggak shalat” aku melanjutkan perjalanan menuju kamar meski Afiya memandangku sedikit sinis dan aneh tapi aku tahu bahwa ia tidak suka dengan kelakuanku hari ini.
Afiya adalah adik perempuanku. Usianya satu tahun lebih muda dariku. Mungkin ia sedikit marah denganku karena aku tidak begitu peduli dengannya tadi. Apalagi ketika aku menjawab juga tidak shalat. Entah apa perasaan Afiya saat itu dan aku baru teringat jika adikku ini perempuan yang sudah kelas 2 SMA. Jadi wajar kalau ia tidak shalat. Mungkin ia berhalangan hari ini.

Sebagai seorang kakak, aku merasa malu dengan adikku ini. Kuakui jika Afiya adalah perempuan yang baik dan selalu mengingatkanku untuk shalat Isya’. Ia juga tak bosan mengingatkanku. Seharusnya aku berterima kasih padanya tapi namanya juga manusia. Pasti ada rasa gengsi dalam hati. Tapi sebenarnya aku sangat menyangi adikku itu.

Meski Afiya setiap hari mengingatkanku untuk shalat Isya’ dengan sabar, aku tetap saja tak memperdulikannya. Bagiku shalat Isya’ itu sangat sulit dilaksanakan bahkan lebih sulit dari pada shalat subuh. Aku tahu jika shalat lima waktu itu penting tapi aku malas sekali melaksanakannya bahkan mengambil air wudhu saja, kaki ini rasanya sangat berat untuk melangkah. Seperti ada beton satu ton yang menempel di punggungku.

                                                                                                              ****

Pagi ini cerah sekali apalagi suasananya sangat langka menurutku karena biasanya awan mendung selalu menghiasi langit dan menutupi sinar mentari. Memang pagi ini sangat cerah tapi wajah Afiya kulihat tidak secerah pagi hari ini. Biasanya ia selalu bersemangat. Suasana di ruang makan jadi lebih aneh karena Afiya tidak seperti biasanya. Ayah dan Ibu juga heran melihatnya. Sesekali Afiya melirikku ketika aku makan tapi ketika aku melihatnya, ia malah memalingkan pandangannya. Aku merasa ada sesuatu yang mau dikatakan Afiya.
“Ada apa Af?” tanyaku sambil mengambil piring dan sendok..
“Nggak ada apa-apa kok” wajah muramnya masih menghiasi dirinya.
“Kalau sakit, nggak usah dipaksain sekolah” ucapku sambil menatap Afiya.
“Tumben peduli sama aku” mendengar ucapan Afiya, aku terdiam dan aku tahu sebenarnya Afiya masih marah denganku karena kejadian semalam. Aku ingin meminta maaf tapi nanti sajalah toh hari ini aku harus berangkat pagi-pagi untuk sekolah karena jadwalnya piket lagi pula Afiya pasti memaafkan aku nanti.

                                                                                                                ****

Aku sengaja meninggalkan jam pelajaran dan menenangkan pikiranku di masjid sekolah sambil menunggu shalat Dhuhur meski kurang satu jam lagi.
Entah kenapa hari ini aku kurang antusias menerima pelajaran yang diberikan guru-guru. Mungkin karena Afiya masih marah atas kejadian semalam dan aku merasa sangat bersalah pada Afiya. Ingin sekali ku meminta maaf padanya tapi kok rasanya malu sekali untuk mengungkapkannya.
Apakah pakaian sombong ini melekat erat denganku?. Hari ini aku merasa tak tenang jika aku belum meminta maaf pada Afiya.
Rasa bersalah terus menghantuiku hingga tak terasa satu jam aku memikirkannya. Terlihat pak Sutopo guru PKN dan empat guru yang lainnya menuju masjid untuk menunaikan shalat dhuhur. Ketika mereka berlima sampai di masjid, pak Sutopo menyuruhku untuk mengumandangkan adzan. Aku ragu apakah aku bisa atau tidak karena belum pernah aku mengumandangkan adzan. Dengan langkah mantap campur keraguan, aku menuju mihrab untuk mengambil mic dan bersiap mengumandangkan adzan dhuhur.

Ketika aku memulai bertakbir saat Adzan, aku tak menyangka jika aku ini bisa melantunkannya dengan merdu ,
padahal baru pertama kali. Lalu kulanjutkan adzan dan ketika sampai di kalimat “hayyaalashalah” sepertinya ada yang menyumpal mulutku ini sehingga aku mengucapkannya kurang lengkap. “ Hayyalasssst” mendengar Adzan yang ku kumandangankan, kelima guru itu langsung menatapku aneh. Aku semakin grogi dan tegang.
Lalu aku mencoba menenagkan diri dan mengucapkannya untuk kedua kali dan hasilnya sama “ Hayyalasssst” lagi-lagi ada sesuatu yang menghentikanku untuk mengucapkannya. Tidak hanya itu, kelima guru itu melihatku. Tapi biarlah, aku tetap melanjutkan Adzan sampai selesai. Anehnya, hanya kalimat tadi saja yang tidak lengkap kuucapkan.
Seusai shalat dhuhur, aku duduk di teras masjid untuk beristirahat. Kusandarkan diriku di tembok sambil kuselonjorkan kakiku. Lagi-lagi aku merasakan beberapa kejadian aneh.

Yang mengejutkan lagi, aku tak mampu mengucapkan “Hayyalashalah”
Aku menjadi tidak enak dengan guru-guru yang mendengar lantunan adzanku yang aneh itu. Terlintas dibenakku bahwa arti dari “Hayya’lashalah” adalah “ Marilah mendirikan sholat”. aku berpikir sejenak dengan kejadian saat mengumandangkan adzan dhuhur tadi.

“Mungkinkah Allah membungkam mulutku Karena aku belum sepenuhnya mendirikan shalat?. aku bertanya-tanya dalam hati.

Tersadar bahwa kejadian tadi adalah sebuah peringatan untukku. Akhirnya kuambil handphone yang ada di tasku. Jika mulut ini tak mampu terucap, aku berusaha meminta maaf kepada Afiya meski hanya lewat pesan singkat atau SMS.

Tapi rasanya sulit sekali untuk merangkai kata-kata maaf untuknya. Apakah aku tidak berbakat merangkai kalimat ya?
Beberapa jam aku duduk dan memegang Handphone sambil memikirkan kata-kata yang pas untuk meminta maaf kepada Afiya. Sambil menghela nafas, aku memutuskan untuk menggunakan kalimat apa adanya tapi aku tak berani.
“ Ya Allah sungguh sombong hamba-Mu ini” bisikku.

“Tiit..tiiit” Handphoneku berdering kencang. Kulihat ada pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Afiya. Suatu kebetulan sekali tapi aku sangat malu karena SMS dari Afiya itu ucapan maaf. Padahal seharusnya aku dulu yang meminta maaf.

“Kakak ku yang keren, sebenarnya Afiya malu untuk mengatakannya tapi Afiya berusaha meminta maaf meski hanya lewat SMS. Maafkan Afiya ya mas? Atas ucapan Afiya yang menyinggung Mas Rama pagi tadi.” Sebuah pesan yang membuatku malu sebagai seorang kakak.
Bahkan pesan yang Afiya sampaikan itu mirip sekali dengan pesan yang akan aku sampaikan kepadanya. Tanpa ragu aku membalas pesan Afiya.

“Maafkan juga ucapanku kemarin malam” Hanya itu yang ku kirim.
“Ya , jangan lupa nanti shalat Isya’” balas Afiya.

“Pasti” Aku membalas SMS itu tanpa ragu sedikit pun

“Allhamdulillah” setelah itu Afiya tidak SMS lagi. Betapa bahagianya hati ini ketika Afiya memaafkanku.
Aku tiba-tiba teringat saat adzan tadi.Ternyata Allah benar-benar membungkam mulutku saat mengumandangkan adzan Sungguh memalukan jika menyeru untuk mendirikan shalat tapi yang menyerukan Adzan itu belum sepenuhnya mendirikan shalat. sebuah peringatan yang cukup pedas bagiku.

Dengan semangat kulangkahkan kakiku menuju parkir untuk mengambil motor kesayanganku. Rencananya nanti malam aku akan membelikan martabak telor kesukaannya.

                                                                                                                 ****

Akhirnya sampai juga di rumah. Tapi ada yang aneh dengan rumahku kali ini. Kelihatannya banyak orang yang berdatangan ke rumahku. Aku teringat bahwa minggu ini adalah giliran arisan di rumah Ibu. Tanpa ragu aku menuju ke rumah sambil menenteng kantong plastik berisi martabak telor.
Pasti Afiya senang. Tapi kenapa ada yang aneh. Lalu aku memasuki rumah dan ternyata orang-orang yang berdatangan itu sepertinya bukan arisan. Tapi sepertinya sedang melayat orang mati.
“Memangnya siapa yang mati?” tanyaku dalam hati. Kulihat Ibu tersedu-sedu menangis dan aku menghampirinya dalam keadaan bingung.

“Ada apa ini bu?” aku tiba-tiba merinding. Entah perasaan apa ini. Lalu ibu memelukku dengan dekapan yang hangat dan erat sekali.. Air mataku tiba-tiba keluar.

“Yang sabar nak..” mendengar ucapan Ibu, air mataku semakin meleleh padahal tadi pagi Ayah sehat-sehat saja tapi mengapa ia pergi begitu cepat. Aku merasa bersalah pada Ayah yang selama ini jarang kuajak bicara dan tidak sempat meminta maaf dengannya. Tapi aku merasa aneh karena aku melihat orang yang mirip Ayah mempersilahkan masuk. Mungkin bukan ayah. Kok hatiku jadi merasa tidak enak?

“Ibu…ibu..ibu…. Ayah nggak meninggal bu” sambil menunjuk-nunjuk ayah yang sedang berdiri di dekat pintu rumah dan tangisku hilang seketika tapi ibu tetap saja menangis dan tangisannya semakin menjadi-jadi.

“A..A..Afiya” ucap Ibu sedikit gagap sambil menahan tangis.

Mendengar itu aku jantungku sepertinya berhenti sejenak sepertinya aku merasa bersalah dengan adikku satu-satunya ini.
Ku buka kain yg manutupi jasad itu, ternyata benar, itu afiya,, adikku yg sangat kucintai..
. . .Sejak saat itu, suara Afiya di malam hari tidak pernah lagi kudengar .
Tapi ketika aku mulai malas untuk shalat Isya’, sepertinya Afiya ada di dekatku dan kata-kata setiap hari itu muncul begitu saja dalam benak ku.
“Mas Ram nggak shalat?”.??

* * *







dikutip dari majalah SABILI, cerpen ALLAH MEMBUNGKAM MULUTKU . . .

komentar | | Read More...

Hadiah Terakhir Dari Ayah . . .


oleh Ak Harist Part II pada 16 Desember 2011 pukul 21:34

Di sebuah perumahan terkenal di jakarta tinggalah seorang gadis bersama sang ayah..
sang ibu telah lama mendahuluinya pergi sejak ia masih kecil. .
Seorang gadis yg akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan.
Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia sangat yakin  nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu.
Diapun ber'angan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya.

Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya.
Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan putrinya, dan betapa dia mencintai anak itu.
Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci!

Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Jaket kulit Terkenal, di belakangnya terukir indah namanya dengan sutra emas.

Gadis itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan jaket ini untukku?"

Lalu dia membuang Jaket itu dan lari meninggalkan ayahnya.
Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia hanya berdiri mematung, tak tahu apa yg harus di lakukannya ..

* * *

Tahun demi tahun berlalu, sang gadis telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang wanita karir. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi suami yang tampan dan anak yang cerdas.

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya.

Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka lemari pakaian ayahnya, dia menemukan Jaket itu, masih terbungkus dengan kertas kado yang sama beberapa tahun yang lalu.


sesuatu jatuh dari bagian kantong Jaket itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia merogoh kantong sebelahnya dan menemukan sesuatu,, di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu.

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga.

Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, ia menangis. air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang takan mungkin bisa terobati...





komentar | | Read More...

Aku Menangis di Kuburanmu . . .


oleh Ak Harist Part II pada 4 Mei 2012 pukul 16:30 ·

Suara kicau burung mulai membangunkan Khairul di pagi dingin di hari minggu.
Setelah mencuci mukanya dengan air sejuk kemudian ia membuat secangkir kopi hangat untuk menemaninya membaca harian pagi edisi minggu.

Seperti biasa ia selalu mencari beberapa pekerjaan di kolom lowongan kerja. Khairul yang akrab dipanggil Irul ini tidak memiliki pekerjaan tetap, dia hanya seorang penulis kecil untuk harian pagi.

Ketika ia memiliki atau membuat sebuah tulisan yang bagus maka akan ia kirimkan ke redaksi harian pagi itu dan mendapatkan upah yang sesuai dengan karyanya.

Pada malam minggu terkadang Irul mengunjungi pacarnya Imel yang tinggal di Perumahan Karyawan yang tidak jauh dari rumahnya.
Imel memang termasuk keluarga yang berada, berbeda dengan Irul yang hidup dalam kesederhanaan. Namun orang tua Imel tidak melarang hubungan mereka. Meski dari keluarga yang berada, tapi Imel tidak memilih-milih untuk menjadi Teman Hidupnya.
Karena itu Khairul sangat menyayanginya dan rela melakukan apa saja agar pacarnya tersebut bahagia.

Malam hari tiba, waktunya untuk makan malam bersama antara mereka berdua. Namun saat makan malam berlangsung, hidung Imel mengeluarkan tetesan darah kental.

Saat itu Irul khawatir namun Imel hanya bilang kalau itu hanya mimisan biasa.
Mendengar itu kekhawatiran Irul menjadi sedikit berkurang.

Suatu minggu pagi mereka berjalan di taman kota namun tiba-tiba Imel jatuh pingsan,
saat itu ia langsung dibawa Irul ke rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa oleh Dokter yang bersangkutan, Imel divonis menderita kanker otak. Hal itu diberitahukan oleh Dokter ke Imel. dan dikatakan bahwa umurnya tidak akan lama lagi.

“Dok, saya harap dokter tidak memberitahukan hal ini pada pacar saya yang sedang menunggu di depan. Karena saya tidak ingin dia bersedih,” pinta Imel pada Dokter tersebut.

Setelah Dokter keluar dari ruangan, “Gimana, dok, keadaan pacar saya?” tanya Irul.

“O…anda tenang saja. Pacar anda baik-baik saja. Hanya terkena anemia atau kekurangan darah. Makanya dia sering letih dan pingsan,” jawaban Dokter pada Irul.
“Lalu, bagaimana, dok?” tanya Irul lagi penasaran.

“Hm… tolong biarkan dia istirahat untuk beberapa Saat ini dan jangan diganggu dulu …”
saran Dokter pada Irul lalu masuk ke dalam ruangan.

Dokter meminta agar Imel tabah dan sabar serta banyak berdoa agar datang suatu keajaiban nanti dan segera diminta memberitahukan kepada kedua orang tuanya tentang penyakit yang sedang di deritanya tersebut.
Dan juga untuk tidak berhenti berobat ke spesialis-spesialis kanker otak.
Akhirnya Irul mengantar Imel pulang kerumahnya dengan sepeda motor. Sampai di depan teras, Imel mengucapkan selamat malam pada Irul dan berpesan agar hati-hati di jalan, begitu pula dengan Irul yang berpesan agar Imel banyak beristirahat.


Pada Malam harinya setelah selesai makan malam bersama keluarga, Imel menceritakan yang terjadi terhadap dirinya kepada kedua orang-tuanya. Imel merupakan anak satu-satunya di keluarga tersebut, jadi wajar ia sangat disayang oleh kedua orang tuanya.

Mendengar apa yang disampaikan oleh anaknya tersebut kedua orang tuanya sangat sedih dan khawatir, dan segera berusaha bagaimana agar anaknya bisa cepat sembuh.

Sudah seminggu sejak pengobatan Imel yang tidak diketahui oleh Khairul. Bahkan ketika Irul menelpon untuk menanyakan keadaannya, pasti tidak pernah diangkat. Sms dari Irul tidak pernah dibalas. Sampai suatu hari Imel menelpon Khairul untuk datang ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Imel, Khairul dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Orang tua Imel memperhatikan dari atas tangga. Imel juga pernah berpesan pada orang tuanya untuk tidak memberitahukan penyakit yang dideritanya kepada Khairul sampai kapanpun.

Dengan wajah mulai pucat Imel meminta Khairul untuk mendengarkan ucapannya dengan serius.

“Rul, aku minta kamu jauhi aku mulai saat ini…” pintanya dengan nada sedih.

“Kenapa,,,?” tanya khairul penasaran.

“Aku mau kuliah ke luar negeri. Orang tuaku ingin aku hidup dengan orang yang sukses. Aku harap kamu bisa berusaha keras dan kembali padaku dengan kesuksesan yang kamu raih…”

Mendengar hal itu Khairul merasa terpukul dengan keadaan dirinya.
Setelah Irul pulang maka Imel menangis di dalam kamar dan orang tuanya ikut sedih melihat yang terjadi pada anaknya.


Setibanya di rumah, Irul selalu murung dan memikirkan ucapan-ucapan yang telah didengarnya dari Imel.
Itu menjadi sebuah penyemangatnya setelah pisah dari Imel. Ia bertekad untuk berusaha dan menjadi orang yang sukses, setelah itu ia akan kembali untuk membuktikan pada orang tua Imel, kalau ia mampu untuk menjadi orang yang sukses.

Hampir setiap hari ia mencari pekerjaan, kebetulan Harian Pagi yang sering ia kirimi tulisan sedang mencari orang untuk menjadi wartawan tetap. Dimulainya karir menjadi seorang wartawan,

karena kerjanya yang gigih dan memuaskan kemudian Irul diangkat menjadi pe-mimpin redaksi yang mengelola harian pagi tersebut.
Namun ketertarikannya terhadap menulis tidak pudar, ia mulai membuat novel tentang kisah hidupnya yang ia angkat menjadi cerita yang menarik.

Novel yang ia buat laku keras dan terkenal di seluruh nusantara bahkan sampai ke Malaysia. Novel tersebut juga sempat dibaca oleh Imel, ia senang Khairul sudah mulai sukses.

Kini Irul tidak lagi bekerja di harian pagi seperti biasa, kini dia telah menjadi penulis terkenal dan kaya raya. Namun, apa yang telah ia raih kini tidak membuatnya lupa dari mana asalnya. Dia tidak sombong dan selalu membantu orang-orang yang kesusahan.

. . .

Pada hari minggu, seperti biasa Khairul pergi untuk berlibur pulang ke rumahnya di kampung, namun cuaca agak sedikit mendung, namun tak menjadi halangan karena ia membawa mobil.

Ketika mobilnya lewat di depan rumah Imel, ia hanya mendapati rumah tersebut sudah disegel dan tak berpenghuni lagi.

Kebetulan rumah lama Khairul berada di sekitar pemakaman umum, ia melihat kedua orang tua Imel berjalan kaki dengan baju yang kusam dan membawa sekeranjang bunga.

Ia tidak membalas apa yang pernah dikatakan Imel dulu padanya.
Ia bertanya mau ke mana kedua orang tua tersebut.

Karena merasa kasihan pada Khairul kedua orang tua Imel pun melupakan janji mereka untuk tidak mengatakan keadaan anaknya yang sebenarnya.

Orangtua Imel bercerita bahwa Imel terkena kanker otak, dan sebenarnya ia tidak pergi kuliah keluar negeri tetapi untuk pergi berobat.

Dia tidak ingin membuat Khairul sedih dan dia berpesan agar Khairul tetap semangat dan ia senang atas kesuksesan yang telah Khairul raih.

“Kami telah berusaha untuk kesembuhannya, seluruh harta kami jual agar anak kami bisa sembuh, tapi Tuhan berkehendak lain,” ucap orangtua Imel dengan sedih.


Setelah mendengar apa yang telah disampaikan orang tua tersebut, Irul jatuh lemas terdiam.

Sejenak ia membayangkan wajah Imel tersenyum padanya, terbayang pula segala kisah yang pernah mereka lalui bersama.

Kemudian Khairul meminta orang tua Imel untuk mengantarkannya ke kuburan Imel.

Di sana di Sebuah segunduk tanah dan batu nisan bertuliskan nama Imelda Melani.
Khairul menatap foto yang ada di kuburan tersebut, foto yang tersenyum padanya. Meninggalkan kisah kasih yang pilu, membuat air mata Khairul jatuh untuk ke sekian kalinya, menangisi kepergian kekasih yang sangat ia cintai.***

:'-)




komentar | | Read More...

Blogger news

Categories

About

Blogroll

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. TULISAN SAYA . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger